Ranciere untuk Seni Emansipatif Indonesia
Sabtu, 12 Agustus 2023 | 11:00 WIB
Galeri Salihara
Jacques Rancière salah satu filsuf Prancis terpenting saat ini. Ia terlibat demonstrasi Mei 1968 di Paris yang dimotori kaum kiri dan anarkis. Sejak itu ia mengembangkan pemikirannya, antara lain tentang kesetaraan radikal dan disensus sebagai sifat pokok demokrasi. Melalui pemikirannya, seminar mencoba menjawab pertanyaan: Bagaimana melihat demokrasi setelah apa yang terjadi di masa ini? Apa model pendidikan yang terbaik? Bagaimana seni mengemansipasi? Juga mengenai pascahumanisme dan kecerdasan buatan.
Dalam seminar ini, ketiga pembicara akan membawakan hasil makalahnya yang kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Dua pembicara di antaranya, Obed Bima Wicandra dan Zumna Arifatul Khusnia, terpilih dari Undangan Menulis Seminar "Membaca Pemikiran Jacques Ranciere: Politik, Seni, dan Pembebasan". Zumna Arifatul Khusnia mendapat giliran pertama dengan makalah berjudul "Revolusioner= Politis+Estetik dan Kesetaraan Radikal, atau Belum Tentu? Distribusi Estetik dan Kaitannya dengan Politik Jacques Ranciere". Melanjutkan Zumna, Obed Bima Wicandra membawakan makalahnya yang berjudul "Mendengarkan Suara yang Tak Pernah Didengarkan: Politik Estetika Jacques Ranciere dalam Praktik Desain Komunikasi Visual" diteruskan kembali oleh Hendro Wiyanto sebagai pembicara ketiga dengan makalah berjudul "Otonomi, Heteronomi, dan Emansipasi dalam Pemikiran Jacques Ranciere".
Profil
Hendro Wiyanto, memperoleh pendidikan senirupa dan filsafat di Yogyakarta dan Jakarta. Mengerjakan sejumlah kuratorial pameran di Indonesia dan menulis mengenai beberapa seniman dan kelompok seniman, ntara lain Alit Sembodo, Dolorosa Sinaga, Heri Dono, Melati Suryodarmo dan Ugo untoro. Ia menyunting sejumlah bunga rampai esai dan kritik seni rupa antara lain karya Bambang Bujono, Goenawan Mohamad, Sanento Yuliman dan Siti Adiyati. Bersama sejumlah penulis muda ia mengerjakan seri uku Pusaka Seni Rupa: Seni Lukis Indonesia Modern (2017).
Zumna Arifatul Khusnia, adalah seorang seniman, periset dan pegiat seni yang saat ini berdomisili di Kota Malang. Ia aktif dalam kegiatan Malang Performnce Art (MAPAC) dan anggota ayasa ermpuaengkaji Seni yan berbasis di Sidoarjo, Jawa Timur. Ia pernah berpartisipasi dalam kegiatan residensi salah satunya dalam Workshop Seni Cahaya "Titen" yang diselenggarakan oleh Waft Lab pada 2018.
Obed Bima Wicandra, adalah pengajar jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Kristen Petra Surabaya. Ia adalah kandidat doktor kajian budaya (Kajian Seni dan Masyarakat) di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Penulis buku Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernurnya PKI (2017), Klopp Time (2021) serta kontributor untukbuku-buku terbitan Bonek Writers Forum. Ia aktif meneliti seni jalanan, budaya visual, dan sepak bola.
Ketersediaan
| 20230918 | Digital | Tersedia |
Informasi Detail
| Jenis |
DIGITAL VIDEO
|
|---|---|
| Tanggal/Tahun | 12 Agustus 2023 |
| Penerbit | Komunitas Salihara |
| Tempat Terbit | Jakarta |
| Keterangan |
Membaca Jacques Ranciere: Politik, Seni, dan Emansipasi | Seminar | Mon Amour | LIFEs | 2023
|
| Penanda |