Dari Dunia Frankofon: Takhayul dan Kekerasan
Kamis, 10 Agustus 2023 | 16:00 WIB
Galeri Salihara
Frankofoni bukan cuma Prancis di Eropa! Sejak dekolonisasi di pertengahan abad XX, sastra dan pemikiran yang diungkapkan dalam bahasa Prancis marak di bekas koloni: Afrika, Maghribi, Asia Tenggara, Karibia, Kanada. Negeri jajahan digambarkan mewakili yang irasional, takhayul, dan kekerasan dalam fantasi kolonial. Isu pascakolonial dan kelas berkelindan dengan banyak aspek kehidupan, dari hasrat hingga historiografi. Apa yang bisa dibaca dari Tahar Ben Jelloun, Alain Mabanckou, Césaire dan Fanon?
Pada seminar ini, para pembicara mempresentasikan makalahnya yang terpilih melalui undangan menulis seminar dengan tema "Prancis dan Frankofon dalam Sastra dan Gagasan: Ruang Pertemuan Budaya, Identitas, dan Kritik Sosial" yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ari Bagus Panuntun membawakan makalahnya yang berjudul "Romantic Primitivism dan Neokolonialisme Sastra dalam L'Enfant Noir karya Camara Laye." Nilna Nabilatus Shalihah membawakan makalahnya yang berjudul "Ecriture Feminine Sastra dan Citra Perempuan Kamboja dalam Novel Le Silence de L'Innocence (2005) karya Somaly Mam." Sementara Rifdah Alifah Putri Aspihan membawakan makalah berjudul "Kepercayaan Tradisional sebagai Dalih Kekerasan dalam Roman Memoires de Porc-epic karya Alain Mabanckou."
Profil
Ari Bagus Panuntun, adalah dosen di Jurusan Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang menekuni studi sastra Frankofon Afrika sub-Sahara. Ia lulus S2 dari Aix-Marseille Universite dan menulis tesis tentang kajian profetisme dan historisisme dalam karya Boubacar Boris Diop dan Emmanuel Boundzeki Dongala. Ia baru saja menerbitkan karya terjemahan pertamanya yaitu tentang genosida Rwanda berjudul Murambi, Buku tentang Tulang Belulang (2023) karya Boubacar Boris Diop.
Nilna Nabilatus Sholihah tengah menyelesaikan studinya di Program Studi Prancis Universitas Indonesia, Depok. Salah satu novel karya Andrea Hirata yang ia baca sewaktu duduk di bangku sekolah menengah pertama, Edensor, memicu ketertarikannya pada Prancis dan budayanya. Selain belajar dan magang di salah satu agensi, ia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk cafe hopping atau menonton film.
Rifdah Aliifah Putri Aspahani, lahir di Jakarta, 24 September 2001, adalah seorang mahasiswa tingkat akhir Program Studi Prancis Universitas Indonesia, Depok.
Ketersediaan
| 202309112 | Digital | Tersedia |
Informasi Detail
| Jenis |
DIGITAL VIDEO
|
|---|---|
| Tanggal/Tahun | 10 Agustus 2023 |
| Penerbit | Komunitas Salihara |
| Tempat Terbit | Jakarta |
| Keterangan |
Seminar | LIFEs | 2023 | Sastra | Mon Amour | Kesusastraan Frankofon: Ruang Pertemuan Budaya, Identitas, dan Kritik Sosial
|
| Penanda |