Ipah dan Bromocorah: A Batik Story
Setelah tragedi G30S tahun 1965, kerajinan batik tulis halus di Hutan Bambu, sebuah kota kecil antara Pekalongan dan Kajen, muncur lantaran bersaing dengan industri batik cap, garmen, pembatik Cina dan pedagang Arab. Ipah, janda cantik, bersama empat janda di desa Rokembu berniat membangkitkan tradisi batik buketan Eliza van Zulyen, Pekalongan, dan menggabungkannya dengan tradisi batik Rifa'iyah, Batang. Sementara itu, di desa Papringan, Jiweng bromocorah muda pewaris Rumah Bambu harus melawan para bromocorah kawakan: Kendil Wesi dan Klabang Ireng. Puncaknya, pada acara malam pesta tari lengger dan bukak kelambu. Malam itu, para penghuni lama Rumah Bambu, Ki Yitmo, Ki Tengkek, Lengger Sriasih, dan para mbaurekso papringan kembali dari alam arwah. Kisah ini unik, lantaran tidak ada batas antara dunia nyata dan maya, real dan surreal, manusia, siluman, dan makhluk astral. Dengan bahasa lincah dan jenaka, Yan Lubisberkisah kembali tentang para penghuni Hutan Bambu sebagai "sekuel" dar buku novel memoarnya: Anak Kolong di Kaki Gunung Slamet.
Ketersediaan
| 20221111 | 813 LUB i | Book Rack | Tersedia |
Informasi Detail
| Jenis |
BUKU
|
|---|---|
| Tanggal/Tahun | 2022 |
| Penerbit | Yayasan Tali Pakarti Nusantara |
| Tempat Terbit | Kebumen |
| Keterangan |
Novel
|
| Penanda |