Bugiali: sehimpun cerpen
Bugiali tidak pernah berpikir sedikit pun akan mati. Seolah kepala gilanya tidak mengenal kematian. Itu membuat ia tidak takut makan apa pun pemberian orang. Menurut para warga, tidak ada untungnya orang membununh Bugiali. Ia begitu miskin. Dan karena hal itu, banyak warga ingin hidup seperti Bugiali, tinggal di rumah 'yang penting bisa dijadikan tempat tidur'.
Benar saja, para warga yang sangat yakin tidak ada yang akan membunuh mereka jika mereka miskin ini merasa sangat bahagia dalam kondisi mereka yang semakin melarat. Sedang Maq Kepaq yang memakan semua pemberian warga, termasuk makanan yang sangat takut disentuh oleh warga lain karena ia sangat ingin menemui istrinya.
Tulisan diatas merupakan salah satu cerpen dari 19 cerpen yang ditulis oleh Arianto dalam buku ini.
Ketersediaan
| 2022070529 | 899.221301 ARI b | Book Rack | Tersedia |
| 202208222 | 899.221301 ADI b | Book Rack | Tersedia |
Informasi Detail
| Jenis |
BUKU
|
|---|---|
| Tanggal/Tahun | 2018 |
| Penerbit | PT Dunia Pustaka Jaya |
| Tempat Terbit | Bandung |
| Keterangan |
Bekerjasama dengan Studio Hanafi
|
| Penanda |