- Aki Onda _Stack Until It Falls Down
Stack Until It Falls Down disusun oleh Aki Onda pada Mei 2020 selama masa karantina wilayah pandemi COVID-19. Skor bergaya Fluxus ini menginstruksikan sebuah gestur dan pengulangan sederhana. Tindakan menumpuk-numpuk, sebagaimana yang tercermin dalam video, menunjukkan suatu aktivitas kehidupan atau mungkin kehidupan itu sendiri. Hal ini merupakan siklus berulang dan berpuncak pada nasib yang tidak menguntungkan. Stack Until It Falls Down direkam di Hurricane Point—sebuah kawasan yang kurang dikenal di sepanjang pantai Brooklyn di East River. Sebagai salah satu dari sedikit tempat di sepanjang sungai dengan dua arus yang bertemu, Hurricane Point berkembang sebagai pulau kecil dari puing-puing yang hanyut dari Hurricane Sandy. Lokasi ini berkomunikasi dengan kenyataan hidup yang keras, dan gerakan sederhana Onda menjadi metafora atau respons puitis terhadap masa yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Disutradarai dan diperagakan oleh Aki Onda
Video oleh Moko Fukuyama
Suara oleh Daniel Neumann
Karya ini dikomisikan oleh Portland Institute for Contemporary Art (PICA)
Aki Onda adalah seorang seniman dan komposer yang tinggal di Mito, Jepang. Karya-karyanya sering mengangkat isu sekitar ingatan, baik pribadi, kolektif dan sejarah. Salah satu proyeknya yang terkenal adalah Cassette Memories (2004) yang direkam selama tiga dekade. Ia pernah berkolaborasi dengan beberapa seniman, di antaranya Michael Snow, Ken Jacobs, Raha Raissnia, Loren Connors, David Toop dan Akio Suzuki. Karyanya telah dipresentasikan di berbagai negara, di antaranya documenta 14, Museum Louvre, Pompidou Center, Palais de Tokyo, Fondation Cartier, Argos, Bozar, ICA London, International Film Festival Rotterdam, Toronto Biennial of Art, The Kitchen, MoMA, MoMA P.S.1, New Museum, Blank Forms, ICA Philadelphia, REDCAT, PICA dan Nam June Paik Art Center.
- Eldwin Pradipta _CHARTA
CHARTA menampilkan konsep CAPTCHA (Completely Automated Public Turing Test to tell Computer and Human Apart) sebuah metode uji dalam computer science untuk membedakan akses yang dilakukan oleh manusia dan digunakan oleh robot atau komputer. Karya ini terdiri dari beberapa halaman web yang masing-masing dapat diakses dengan menjawab berbagai tes CAPTCHA, kemudian pada akhirnya akan mengarah ke halaman akhir. Kata ‘Charta’ dalam bahasa Latin dapat diterjemahkan sebagai istilah yang menggambarkan kertas, surat, naskah, atau puisi. Ini terkait dengan bagaimana komputer, mesin, dan robot diprogram untuk berpikir atau berperilaku, melalui bahasa pemrograman dan penulisan kode. CHARTA untuk judul karya seni ini juga merupakan akronim dari Computer and Human are Apart in How They Reinterpret and Think About Art.
Eldwin Pradipta adalah lulus Jurusan Intermedia, Fakultas Seni & Desain, Institut Teknologi Bandung. Karyanya kerap mengeksplorasi proyeksi video dan media digital lainnya. Ia pernah terpilih sebagai salah satu finalis BaCAA ke-4 pada 2015 dan turut mengambil bagian dalam Indonesia Art Award 2015 yang diinisiasi oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia. Pada 2016, Eldwin bergabung dengan beberapa pameran bersama, seperti A.S.A.P. New Contemporary Artist from Indonesia (Galeri G13 Kuala Lumpur, Malaysia) dan Stills in Action, Video Stage di Art Stage (Marina Bay Sands, Singapura). Ia juga telah mengikuti beberapa pameran, seperti South East Asia Forum (Art Stage Singapore) dan Fantasy Island in Objectificts (Center for Film and Photography, Singapura, 2017). Karyanya pernah dipamerkan di Manifesto 6.0: Multipolar (Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 2018) dan Beyond Painting: Extend the Boundaries (Art Expo Malaysia, 2019).
- Indah Arsyad _Buaya Buntung / Crocodile Rock
Buaya Buntung adalah karya dari hasil penelitian pencemaran air sungai di Kali Angke, Ciliwung Cisadane. Penelitian ini menggunakan perangkat IoT (Internet of Things). Perangkat ini menghitung kadar PH air dan oksigen untuk mengetahui tingkat pencemaran air sungai berdasarkan komposisi airnya. Hasil yang diperoleh berupa angka, diagram statistik, dan suara yang frekuensinya semakin tinggi ketika level PH air mencapai asam. Frasa ‘Buaya Buntung’ diambil dari legenda masyarakat sekitar sungai Ciliwung Cisadane yang percaya bahwa ada setan buaya yang sering memakan korban, karena kerusakan lingkungan terjadi di sungai tersebut. Buaya Buntung merupakan sebuah peringatan akan ancaman pencemaran yang menjadi karya seni audio visual online sekaligus berinteraksi dengan aktivitas masyarakat setempat.
Indah Arsyad berkarya dalam bentuk tulisan, instalasi, patung dan seni media. Karya-karyanya mengangkat isu-isu sosial, budaya dan lingkungan yang selalu didasarkan pada penelitian ilmiah. Ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan, Universitas Trisakti. Karyanya telah dipamerkan dalam berbagai pameran nasional dan internasional, termasuk pameran tunggal di Museum Nasional Indonesia dengan tajuk On The Way (2008). Ia juga berpameran di London Art Biennale di Chelsea Old Town Hall (United Kingdom, 2021) dan KNOCK KNOCK KNOCK di Hancock Art Museum (Korea Selatan, 2021).
- Rizki Lazuardi _Call Me by Their Names
Call Me by Their Names berangkat dari catatan sejarah usaha Presiden Singapura dan Indonesia melawat untuk perbaikan hubungan bilateral pasca-konfrontasi Malaysia. Bunga Anggrek endemik Sumatra Utara dipakai sebagai hantaran. Penamaan ulang beberapa varietas tanaman menjadi simbol persahabatan politik. Penamaan dari Cymbidium hartinahianum hingga ke Dendrobium Iriana Jokowi adalah bentuk taksonomi yang telah melampaui jejak eksplorasi kolonial hingga ke politik praktis. Call Me by Their Names berisikan rekaman ekosistem tropis buatan yang diwariskan penjelajah Eropa. Karya ini adalah esai tentang relasi kuasa pada nomenklatur flora, yang coba diingat oleh Tanjong Katong Botanical Society of Singapore bersama Rizki Lazuardi.
Rizki Lazuardi adalah seniman dan kurator yang bekerja dengan medium gambar bergerak dan expanded cinema. Ia menyelesaikan pendidikan Film dan Seni Media di HFBK University of Fine Arts Hamburg, Jerman. Karya dan programnya menjadi bagian dari sejumlah pameran dan festival, di antaranya IFFR Rotterdam, Singapore Art Museum, European Media Arts Festival Osnabrueck, Image Forum Tokyo, dan Jakarta Biennale. Saat ini ia menjadi salah satu konsultan program di Arsenal Berlin untuk Berlinale Forum.
- XXLAB _(R)EMISI
(R)EMISI menyampaikan isu lingkungan dengan melibatkan masyarakat dalam pengumpulan data, dan aksi pengurangan jejak karbon melalui penghapusan e-mail. Keterhubungan menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan oleh internet. Perkembangan internet yang begitu pesat, membuat keterhubungan yang sesungguhnya terlupa oleh kita sebagai pengguna. Penggunaan internet meninggalkan jejak karbon yang juga menjadi permasalahan lingkungan global. Bersamaan dengan aksi interaktif bersama masyarakat, XXLAB melakukan penanaman pohon pada suatu kawasan hutan di Wonogiri. Visual data hasil dari kuesioner serta update kegiatan akan ditampilkan secara real time di situs web Salihara Arts Center.
XXLab adalah grup inisiatif dari Yogyakarta yang terdiri atas beberapa perempuan dengan berbagai latar belakang disiplin dan keahlian. XXLab berfokus pada eksplorasi seni, sains dan teknologi bebas berbasis open source (sumber terbuka) software dan hardware yang dikerjakan secara DIY (Do It Yourself) dan DIWO (Do It With Others). XXLab terbentuk pada 2013, sebagai kelanjutan dari lokakarya berseri “Ms. Baltazar ID”. Pada 2015 XXLab memenangi penghargaan Voestalpine Award Prix Ars Electronica, sebuah penghargaan bergengsi di bidang seni media baru untuk kategori “next idea”. XXLab juga mengikuti berbagai pameran seni dan inovasi, serta aktif mengadakan berbagai edukasi nonformal.
- Yovista Ahtajida _Ustartz-bot
Ustartz-bot adalah kelanjutan karya dari Yovista Ahtajida yang bertajuk Ustartz: Bincang Seputar Syari’art (2017). Pada karya itu Yovista mencoba menjawab permasalahan-permasalahan seni rupa kontemporer melalui perspektif Islam (Al-Quran & Hadist). Melalui Ustartz-bot Yovista melebarkan jangkauan karyanya dengan membuat aplikasi chatbot, sehingga publik dapat bertanya mengenai permasalahan seni rupa kontemporer secara interaktif, mengikuti semangat zaman Revolusi Industri 4.0.
Yovista Ahtajida adalah seniman independen yang tinggal di Jakarta. Karya-karyanya sering mengangkat relasi kapitalisme dan Islamisme berdasarkan pengalaman keluarga muslim fundamentalis dan latar belakang pendidikan. Pada 2012 ia mendirikan The Youngrrr, sebuah kolektif seni video. Karyanya dengan The Youngrrr telah dipresentasikan di European Media Art Festival (EMAF) 2014, Berlin International Film Festival (Berlin, 2014), South Asian Visual Art Centre (Toronto, 2014) dan Jakarta Biennale 2015. Karya tunggalnya telah dipresentasikan dalam Video Vortex XI, pada Kochi Muziris Biennale (India, 2017), W:OW 18, Torrance Art Museum (Los Angeles, 2018) dan Bandung Contemporary Art Award 2017. Pameran tunggalnya bertajuk Hijrah di LIR Space Yogyakarta (2018).
- Youtube_Peluncuran daring pameran "Universal Iteration: Intermissions"