Ekosistem Seni Pasca-Pandemi
Upaya konkret apa saja yang telah dilakukan pelaku seni untuk memecahkan persoalan selama dan setelah pandemi? Diskusi ini juga membahas apakah ruang-ruang pertunjukan perlu sebuah rancangan dan rupa baru? Komunitas Salihara menghadirkan dua pelaku seni: Ratri Ninditya dan Yudi Ahmad Tajudin, serta ahli di bidang teknik ramah lingkungan: Kafiuddin.
Profil:
Ratri Ninditya adalah peneliti kebijakan di Koalisi Seni yang menyelesaikan studi magisternya di jurusan Gender and Cultural Studies, Universitas Sydney, Australia. Ia pernah magang di ACON, sebuah LSM kesehatan untuk komunitas LGBTIQ di Sydney.
Yudi Ahmad Tajudin adalah salah satu pendiri Teater Garasi, sebuah kelompok seni pertunjukan yang berbasis di Yogyakarta. Ia menyutradarai sejumlah pentas teater, baik bersama Teater Garasi maupun berkolaborasi dengan seniman lain. Bersama Teater Garasi, Yudi menerima Prince Claus Award dari Belanda pada 2013.
Kafiuddin adalah konsultan perencanaan gedung-gedung hijau di Indonesia. Ia menyelesaikan studi tingkat Diploma di Technologiques Supérieures, Universitaire de Technologie I Joseph Fourier, Grenoble France (Prancis) pada 1993 dan studi (Magister Teknik) di Konservasi Energi, Universitas Indonesia pada 2001. Kini ia aktif sebagai anggota IABHI (Ikatan Penilai Bangunan Hijau Indonesia) sejak 2012.
Ketersediaan
| 202009172 | Digital | Tersedia |
Informasi Detail
| Jenis |
DIGITAL VIDEO
|
|---|---|
| Tanggal/Tahun | 16 September 2020 |
| Penerbit | Komunitas Salihara |
| Tempat Terbit | Jakarta |
| Keterangan |
Musim Seni Salihara | Diskusi | 2020 | Ekosistem Seni Pasca-Pandemi | Youtube
|
| Penanda |